The Changcuters Menebar "Racun", Menuai Popularitas
BANYAK orang berpendapat, racun selalu menyakitkan, bahkan mematikan. Lalu, bagaimana jika racun tersebut malah digilai?
Racun itu sebenarnya sudah mewabah di Kota Bandung pada pertengahan tahun 2006. Namun, seiring perjalanan waktu, proses, dan keberuntungan, membuat racun itu saat ini menyebar ke berbagai kota di Indonesia. Racun yang digemari banyak orang itu bernama The Changcuters.
"Mencoba Sukses" yang diluncurkan 11 Agustus 2006 adalah album pertama The Changcuters yang dirilis minor label Masterplan Records milik Uki Peterpan. "Pria Idaman Wanita", "Gila-gilaan", atau "Hijrah ke London" adalah tiga hit yang sempat menjadi primadona radio-radio di Bandung saat itu. Ruang lingkup distribusi yang sempit membuat gaung The Changcuters hanya terasa di Bandung.
Dua tahun kemudian, Bandung sudah tidak mampu lagi memonopoli The Changcuters. Perpindahan dari minor ke major label Sony BMG tak kuasa membendung The Changcuters untuk merambah semua pelosok di Indonesia. Dengan album "Mencoba Sukses Kembali" (2008) yang mengandalkan single "Racun Dunia" dan "I Love U Bibeh" sebagai jagoan. Belum lagi efek "Tarix Jabrix", film perdana mereka yang ikut menyebarkan wabah fenomena The Changcuters di segmen anak, remaja, hingga dewasa.
Selain musik berdarah garage rock yang energik, penampilan rapi berseragam dengan corak bervariasi dan stage act terkonsep adalah salah satu ciri khas yang melekat pada The Changcuters dalam setiap penampilannya. Sebuah konsep yang memang sudah dirancang matang sejak awal band ini didirikan pada 2004, sebagai wujud kesadaran bahwa penampilan audiovisual merupakan satu paket tak terpisahkan dalam dunia pertunjukan. Filosofinya cukup sederhana. "Kami tidak ingin di antara kami ada yang lebih keren atau menonjol daripada yang lain. Kalau pakai seragam semuanya kan sama, enggak ada sirik-sirikan. Lagi pula kita ingin menunjukkan pada remaja, bahwa berseragam itu keren," ujar Mohammad Iqbal alias Qibil (lead guitar), yang sering disebut sebagai "dalang" di balik penampilan The Changcuters.
Keseragaman ini sekaligus menjadi magnet visual The Changcuters, hingga membuat band ini enak dipandang dalam setiap aksi mereka, di luar dugaan mampu "meracuni" gaya busana ribuan Changcut Rangers, sebutan penggemar The Changcuters.
Menurut Qibil, ide berseragam tercetus spontan dalam suasana bercanda saat dia, Tria (vocal), dan Dipa (bas) yang merupakan the founding father of the band, berikrar membentuk sebuah band yang beda dan lebih mengutamakan gaya untuk bisa eksis. Citra band rock yang cenderung berantakan dalam hal fashion, ingin ditepis lewat penampilan elegan namun tetap berkarakter.
"Dari awal ikut audisi kami sudah berseragam. Bagi kami, yang penting mah penampilan dulu. Pokoknya ingin jadi band dengan citra menak (ningrat) dan enak dipandang kayak pegawai bank," ujar Qibil setengah bercanda.
Uniknya, tidak ada fashion stylist khusus yang merancang koleksi puluhan setel kostum panggung mereka. Qibil adalah sosok yang mencoba berinovasi dengan mendesain sendiri busana yang melekat di tubuh kurus masing-masing personel The Changcuters. Berkiblat pada gaya busana grup band tahun 20 hingga 60-an, dia berimprovisasi dan melakukan mix and match dengan gaya populer. Hasilnya, puluhan set kostum bernapaskan vintage, mulai dari jaket kulit, kemeja berdasi, rompi, jas, dan celana ketat dengan beragam model dan warna, menjadi pemanis atraksi panggung mereka.
Prioritas utama pada gaya dan penampilan tidak serta merta membuat The Changcuters mengabaikan nilai musik mereka. Dengan segala influence yang dibawa masing-masing personel seperti Tria yang memuja rock ’n roll ala Rolling Stone, Dipa, Qibil, dan Erick yang menggandrungi britrock dan britpop, hingga metal yang digilai Alda, mereka sepakat menamai musik mereka "Garasi Rock ’n Roll ala Changcuters". Musik yang cenderung kental diwarnai garage rock juga rock ’n roll.
"Kami tidak bisa mendefinisikan musik kami dan tidak pernah terbebani dengan definisi atau aliran tertentu. Pokoknya yang ngerock dan ngehits," kata Qibil.
Kebebasan itu pula yang diterapkan The Changcuters dalam proses kreatif penciptaan sebuah lagu. Hampir semua lagu The Changcuters, termasuk "Racun Dunia" dan "I Love U Bibeh" yang sukses meracuni berbagai media dan mendongkrak popularitas The Changcuters, menurut Qibil lahir dari jamming saat latihan. "Kita selalu membuat musiknya dulu dengan ngejam, liriknya baru diilhami cerita kehidupan sehari-hari," ujar Qibil.
Tak lelah berkreasi, untuk lebih menancapkan "racun" di telinga penikmat musik tanah air, The Changcuters berencana untuk mengeluarkan album kedua yang konsepnya masih dirahasiakan. Untuk itu, mereka menjanjikan kejutan yang akan dipersembahkan sebagai jembatan ke album berikutnya tersebut. "Yang penting terus mengikuti konsep band, eksis terus sampai mati," ucap Tria mencoba serius.
Makanya, Tria dkk. lebih bergairah ketika menyebutkan kata "eksis" ketimbang "sukses". Pasalnya, mereka merasa jika kesuksesan hanya bisa diukur ketika mereka semua sudah berhenti berkarya. Mereka menilai, definisi sukses hanya bisa dinilai ketika orang lain bisa memetik manfaat dari proses menuju kesuksesan. "Tapi kalau masih menuju sukses, ya boleh lah," ucap Tria yang disertai anggukan dari empat temannya yang lain.
Ya, dengan segala usahanya, The Changcuters mencoba untuk semakin menancapkan eksistensi. Lalu, cara apa yang bakal ditempuh? "Tetap tahu apa yang gaul, tetap dandan, harus tahu tren, maksudnya sadar diri, sadar tampang, jadi nanti walaupun sudah enggak eksis ya dieksiskan lagi," ucap Tria. (Arif Budi/Endah Asih)***
PayPal.Me/Techerbandung.
Kamis, 08 Oktober 2009
Mesin Standar Menunjang Penghematan BBM
Mesin Standar Menunjang Penghematan BBM
PUSING memikirkan harga bensin... pengeluaran membengkak? Beralasan memang, sebab dengan naiknya harga bensin premium dan pertamax belakangan ini cukup menguras kantong pemilik kendaraan. Tidak heran jika saat ini, banyak masyarakat yang mengupayakan cara-cara mengirit bensin pada kendaraannya.
Upaya itu sah-sah saja dilakukan, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa penghematan bahan bakar minyak (BBM) dilakukan tidak akan bekerja optimal, bila kondisi mesin kendaraan tidak berada pada setelan ideal sesuai standar pabrik. Artinya, peralatan penghematan BBM itu bisa berfungsi optimal, jika kondisi mesin dikembalikan sesuai standar pabrik.
Hal ini perlu diingat, sebab setelan mesin bisa berubah dalam jangka waktu tertentu, sehingga membuat proses pembakaran campuran bensin dan udara menjadi tidak efisien lagi dan konsumsi BBM menjadi boros. Oleh karena itu, diperlukan perawatan untuk mengembalikan mesin pada kondisi ideal agar pemakaian BBM tetap efisien.
Kondisi kerja mesin kendaraan yang ideal, ditunjukkan dengan rasio campuran udara dan bahan bakar atau air fuel ratio (AFR) bernilai 14,7 : 1. Nilai AFR yang berada di atas angka itu, menunjukkan jumlah kandungan bensin yang lebih sedikit dari udara atau populer diistilahkan dengan kata miskin. Sebaliknya, nilai AFR di bawah angka ideal menandakan jumlah bensin yang lebih besar dari udara atau kaya bahan bakar.
Konsumsi bahan bakar yang paling hemat, berada pada kondisi AFR miskin. Namun, mesin tidak bisa dipatok pada kondisi AFR miskin terlalu lama, karena akan menyebabkan suhu dapur pacu meningkat panas. Sedangkan tenaga mesin paling besar, justru dihasilkan pada saat nilai AFR kaya.
Karena kondisi lalu lintas berbeda-beda, pabrikan mengatur kerja mesin untuk berada pada kondisi AFR bervariasi. Implikasinya, konsumsi BBM bisa diatur tetap hemat dan tenaga mesin tetap besar saat berakselerasi. Untuk mesin injeksi ada empat kondisi AFR yang disediakan komputer, yaitu putaran stasioner, rpm konstan, torsi maksimal, dan akselerasi.
Bahasa Sunda di Tapal Batas
Bahasa Sunda di Tapal Batas
Kalaupun masih tersisa perbedaan, hanya terletak pada dialek (cara pengucapan bahasa tersebut). Contohnya, penutur bahasa Sunda asal Amerika tentu akan berbeda dengan penutur bahasa Sunda asal Kuningan. Ada "lentong" yang membedakan di antara keduanya.BAHASA Sunda sebagai bagian dari budaya suatu masyarakat tidak dapat mengelak dari batasan-batasan wilayah administratif. Di sisi lain, pertumbuhan dan perkembangan bahasa Sunda juga sangat ditentukan oleh kebijakan pusat (dalam hal ini pemerintah provinsi) dan daerah (pemerintah daerah). Akibatnya, keberadaan bahasa Sunda di suatu wilayah tertentu yang berbeda secara administrasi politik nyaris mati atau justru "dimatikan".
Persoalan-persoalan bahasa Sunda di tapal batas administrasi politik ini menjadi topik yang dibicarakan Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) pada saat mengadakan "Saba Sastra" dan menggelar "Gundem Catur Sastra jeung Pangajaran Sunda" di Kab. Kuningan. Kegiatan yang merupakan hasil kerja bersama antara PPSS, Balai Pengembangan Bahasa Daerah (BPBD) Jawa Barat, Pemkab Kuningan, Dinas Pendidikan Kuningan, Dinas Pariwisata Kuningan, Tim Penggerak PKK Kuningan, PWI Cabang Kuningan, Daya Mahasiswa Sunda (Damas) Kuningan, dan Koran Sunda "Midang" ini diikuti berbagai unsur seperti guru, seniman, budayawan, pemerhati pendidikan, mahasiswa, dan pelajar.
Hadir sebagai keynote speaker pada pertemuan tersebut Ketua PPSS, Etti R.S., M.Hum., dan empat pembicara lain, yakni Dadan Sutisna (pengarang/pengasuh website), Safrina Noor (Dosen UPI Bandung), Asep Ruhimat (guru/pengarang), dan Holisoh M.E. (guru/pengarang) dipandu Dian Hendraya (pengarang/presenter TV).
Dari hasil pertemuan itu terungkap bahasa Sunda yang berada di wilayah-wilayah perbatasan atau berada di suatu wilayah yang berbeda secara administrasi politik sering kali pada akhirnya menjadi bahasa minoritas. Parahnya, indikasi tersebut didukung pola kebijakan Pemrov Jabar dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jabar yang mengadakan kegiatan "Workshop Sastra" setiap tahun di setiap wilayah.
Dalam workshop tersebut, pemerintah mengotak-ngotakkan bahasa Sunda sesuai kedudukannya per wilayah administratif. Pada tahun 2006 "Workshop Sastra Sunda" diselenggarakan di Wilayah Priangan (Tasik), 2007 di Wilayah Purwakarta (Subang), dan 2008 di Wilayah Bogor (Cianjur).
Bila pemerintah kembali mengadakan kegiatan tersebut untuk wilayah Cirebon, kemungkinan besar Kab. Kuningan akan masuk menjadi bagian dari wilayah Cirebon. Dari segi kewilayahan, Kuningan merupakan bagian dari kota-kota kecil yang berada di wilayah Pantai Utara (Pantura) dan berdekatan dengan Cirebon. Walaupun secara bahasa dan budaya, Kuningan berbeda dengan Cirebon.
Pada kondisi ini, keberadaan bahasa Sunda di Kuningan sangat mungkin menjadi bahasa minoritas. Pola pendidikan kebahasaan yang digunakan harus mengikuti kebijakan kebahasaan wilayah tersebut, seperti juga yang terjadi di daerah Brebes dan Majenang. Kebaradaan bahasa Sunda pada akhirnya menjadi bahasa minoritas.
Padahal secara budaya, masyarakat Brebes dan masyarakat Majenang adalah pemakai bahasa Sunda. Namun secara administratif, wilayah itu berada di daerah Jawa. Masyarakat Brebes dan Majenang akhirnya menggunakan bahasa daerah Jawa Brebes dan Majenang.
Kekhawatiran Etti ini lebih gamblang terkuak manakala Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda Kuningan, Yayat Ruhiyatun, membeberkan tentang sulitnya mendapatkan buku bahan ajar maupun buku pendukung bahan ajar. Guru hanya mengandalkan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dibuat guru sendiri yang tergabung dalam MGMP.
Selain tidak banyak penerbit yang masuk ke daerah ini, toko buku yang tersedia pun hanya tiga tempat, sedangkan perpustakaan daerah baru sedang (akan) dibangun. Sementara dana bantuan operasional (BOS) yang diberikan pemerintah pusat untuk pengadaan buku-buku gratis di sekolah, terbatas untuk buku-buku mata pelajaran ujian nasional (UN). Alhasil, pendidikan dan pengajaran bahasa Sunda sangat terbatas.
Lebih parah lagi, ketersediaan guru bahasa Sunda yang berlatar pendidikan bahasa Sunda pun sangat sedikit. Akibatnya, berdampak pada sistem pengajaran yang diberikan. Sementara di sisi lain, dalam tataran pendidikan nasional maupun global, guru sudah bersentuhan dengan kemajuan teknologi informasi sehingga guru yang kreatif merupakan kebutuhan yang sangat mutlak.
Dari beberapa pertanyaan yang disampaikan peserta tergambar bahwa guru mengalami kesulitan pada saat harus menyampaikan pendidikan dan pengajaran bahasa Sunda. Beberapa di antaranya adalah apa dan bagaimana cara mengemas pendidikan bahasa Sunda yang selaras dengan kebutuhan global.
**
KETERBATASAN bahasa Sunda di daerah tapal batas seperti itu seharusnya memang tidak perlu terjadi. Keberadaan suatu bahasa dan masyarakat pengguna bahasa tersebut seharusnya memang tidak perlu dibatasi secara wilayah administratif. Apalagi, dengan terus bergulirnya kemajuan internet ke setiap lini kehidupan di mana pun sudah memupus kepentingan persoalan batasan wilayah tersebut.
Jutaan Pelajar Putus Sekolah
Jutaan Pelajar Putus Sekolah
BANDUNG, (PR).-Gubernur Jabar H. Achmad Heryawan mengatakan, dalam setahun 1,4 juta lulusan SD dan SMP di Jabar tidak bisa melanjutkan sekolah ke tahapan lebih tinggi. Penyebabnya diduga tidak memiliki biaya dan terbatasnya daya tampung SLTP dan SLTA di Jabar.
"Belum diketahui mana penyebab yang lebih besar, tidak ada biaya atau kekurangan sekolah. Data yang ada pada kami memang belum sempurna," ujar Gubernur di acara silaturahmi dengan pengusaha Kadin Jabar, Kamis malam (26/6).
Dijelaskan, dalam penelitian yang dilakukan BPS (Badan Pusat Statistik), pada tahun 2006 saja Jabar sudah kekurangan 15.000 kelas untuk tingkat SLTP dan 12.000 kelas SLTA. Jumlah kekurangan tersebut saat ini diperkirakan sudah bertambah, mengingat jumlah anak sekolah juga terus bertumbuh.
Hal yang lebih memprihatinkan terjadi pada kondisi fisik sekolah di tingkat SD, karena dalam penelitian tersebut ada temuan 62% bangunan SD yang ada sudah layak direnovasi. Artinya ada 3,4 juta anak SD di Jabar belajar di kelas-kelas yang tidak layak untuk belajar.
"Kami mengajak para pengusaha Jabar bersama-sama mengatasi permasalahan pendidikan anak-anak Jabar ini. Baik lewat CSR (corporate social responsibility-red.), maupun didasarkan pada kepedulian pribadi," katanya.
Namun, diakuinya, berbagai pendataan yang ada pada Pemprov Jabar saat ini, belum bisa dikatakan sudah baik. Oleh karena itu, Gubernur akan segera membuat mapping (pemetaan) dan pendataan yang lebih komprehensif, berkaitan dengan masalah kependidikan. Sehingga berbagai bantuan untuk bidang pendidikan nantinya tidak salah alamat.
42.000 bayi kelaparan
Di luar pendidikan, masalah kesehatan di Jabar juga sangat memprihatikan. Terutama untuk kesehatan bayi, menurut Gubernur, bisa dikategorikan sebagai tragedi kemanusiaan.
Langganan:
Postingan (Atom)