Sebagaimana kita mafhum, Jawa Barat mempunyai tradisi, kebudayaan, dan kearifan khas yang, salah satunya, terangkum dalam falsafah hirup nyunda. Dan itu mendapat porsi tersendiri, karena di dalamnya terkandung logika-logika kebenaran yang khas. Dilihat dari etnik dan kebudayaan, penduduk Jawa Barat merepresentasikan seluruh etnik dan kebudayaan yang ada di Indonesia seperti Jawa, Padang, Medan, Batak dan sebagainya. Dalam lingkup karakteristik sosial-kultural, Daerah Jawa Barat dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a) Pesisir - pedalaman.
b) Kota - desa.
c) Industri - agraris.
d) Modern - tradisional.
e) Santri - nonsantri.
Dari aspek pengelompokkan organisasi sosial (ormas) keagamaan yang paling menonjol di Jawa Barat adalah Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyah, Persatuan Islam (Persis) dan Persatuan Umat Islam (PUI). Di antara kegiatan ormas-ormas keagamaan ini adalah menyelenggarakan pendidikan, termasuk dalam bentuk madrasah swasta, baik tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI, Madrasah Tsanawiyah (MTs), maupun Madrasah Aliyah (MA).
Daerah-daerah yang dapat dijadikan contoh dengan kecenderungan karakteristik sosial-kultural tersebut, sekaligus mewakili jawa Barat dari daerah utara, selatan, timur, barat dan tengah, sebagai berikut:
1) Bandung (kabupaten dan kota) lebih menonjolkan karakteristik kota dan modern dengan ormas keagamaan yang bervariasi.
2) Indramayu memiliki kecenderungan karakteristik pantai, desa dan agraris.
3) Tasikmalaya, memiliki kecenderungan desa, santri, tradisional
4) Sukabumi memiliki kecenderungan karakteristik daerah pedalaman, agraris, desa dan nonsantri.
5) Bekasi dengan kecenderungan karakteristik kota, industri, modern dengan ormas keagamaan yang bervariasi.
Hubungan antara kebudayaan induk Jawa Barat yakni Sunda dengan Islam sebagai agama yang dianut mayoritas penduduk Jawa Barat menujukkan hubungan yang bersifat simbiosis dan mutualistik. Hubungan ini didasarkan pada beberapa kajian. Pertama, antara budaya Sunda dengan Islam tidak dapat dipisahkan. Ajaran Islam dikatakannya sebagai nilai-nilai yang menjadi ruh kebudayaan Sunda. Kedua, Ahmad Mansur Suryanegara, dalam berbagai kesempatan menyatakan bahwa membicarakan Sunda tidak dapat dilepaskan dari urusan pemerintah daerah dan masyarakat daerah itu.
Konteks keterakaran budaya masyarakat dalam dunia dakwah mengingat beberapa konsepsi dasar, sebagai berikut: