SELAMAT DATANG DI WEBBLOG SERBA-SERBI INDONESIA TERIMAKASIH SUDAH BERKUNJUNG

Selasa, 18 Oktober 2011

PERAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM DALAM MEMPERKOKOH KESADARAN NASIONAL


PERAN PEMBELAJARAN GEOGRAFI  DALAM
DALAM MEMPERKOKOH KESADARAN NASIONAL


MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Gografi dan Kependudukan Dosen  Prof.Dr.Sc.H.M.  Ahman Sya, Drs. M.Pd, M.Sc.



.
                                                                       




Oleh:






PROGRAM PASCA SARJANA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
STKIP PASUNDAN CIMAHI
2011




DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................            ....3
BAB     I         Pendahuluan
A. Latar Belakang...................................................................................4
B. Rumusan dan Identifikasi Masalah....................................................5
C. Sistematika Penulisan.........................................................................5
BAB     II        Pembahasan
A.   Geografi dan Kependudukan……………………………………...7
            B.   Nasionalisme di Indonesia………………………………………...10
      C. Peran Geografi dalam memperkokoh Kesadaran Nasional………...12
BAB     III      Simpulan……………………………………………………….16
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………...17



















KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat serta KaruniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah mengenai Peran Pembelajaran Geografi dalam Memperkokoh Kesadaran Nasional.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Geografi dan Kependudukan dalam Pendidikan IPS. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari bahwa baik isi maupun sistimatika dari makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu penulis berharap kritik dan saran  untuk penyempurnaan makalah ini.
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.



Bandung,   Juni 2011
Penulis.











BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Ilmu banyak ragamnya salah satu yang akan dibahas adalah pembelajaran geografi sebagai ilmu yang tidak bisa dipungkiri dapat merubah tatanan manusia untuk mengubah wajah dunia pada umumnya dan bangsa pada hususnya yaitu diantaranya membangun karakter bangsa, Geografi merupakan ilmu untuk menunjang kehidupan sepanjang hayat dan mendorong, peningkatan kehidupan. Oleh karena itu kita didorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karaketeristik dan persebaran spasial ekologi di permukaan bumi. Selain itu kita dimotivasi secara aktif dan kreatif untuk menelaah bahwa kebudayaan dan pengalaman mempengaruhi persepsi manusia tentang tempat dan wilayah. Pendidikan geografi selain memiliki kewajiban formal unruk mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional juga mengandung potensi yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Daljoeni, merinci lima sumbangan pedagogik geografi,yaitu: wawasan dalam keruangan, pendidikan keindahan, kecintaan tanah air, dan saling pengertian internasional. Nursid Sumaatmaja menyebutkan bahwa geografi memiliki lima nilai, yakni nilai teoritis, praktis, nilai edukasi, nilai filsafat dan nilai ketuhanan.
Geografi memiliki nilai teoritis, yaitu berusaha untuk membaca realitas geosffera. Geografi memiliki nilai praktis, yaitu khususnya dalam memberikan teknik-teknik pembacaan peta atau medan. Nilai ketiga, geografi memiliki nilai edukatif, baik kognitif, afektif maupun psikomotorik.Sedangkan nilai edukatif dari geografi, yaitu sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya manusia. Dalam pengembangan nilai sumber daya manusia pendekatan yang harus dilakukan yaitu perlu memperhatikan konteks keruangan dan kondisi sosial budaya masyarakat. Keempat geografi memiliki peran dalam pengembangan filsafat, misalnya dallam memahami hakikat hidup dilingkungannya. Kelima geografi memiliki nilai ketuhanan.
Kesadaran manusia mengenai tingginya nilai geografi sdebagaimana yang dikemukakan oleh Nursid Sumaatmamadja atau Daljoeni belum begitu penting dari praktek pembelajaran geografi di lembaga pendidikan. Negara Indonesia merupakan negara yang kaya raya, terdiri dari beribu-ribu pulau dan berbagai suku bangsa dengan ciri khas masing-masing. Yang mana satu sama lain saling berinteraksi dan disatukan dengan semboyan ”bhineka tunggal ika”. Belum lama ini bangsa indonesia dihadapkan pada permasalahan yang sangat menghawatirkan yaitu dengan adanya krisis rasa nasionalisme.
Berdasarkan pemaparan dari latar belakang di atas dalam penulisan makalah ini, diberi judul “Peran Pembelajaran Geografi dalam Memperkokoh Kesadaran Nasional”

B.       Rumusan dan Identifikasi Masalah
1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan pada bagian pendahuluan maka dalam penulisan makalah ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana Peran Pembelajaran Geografi dalam Memperkokoh Kesadaran Nasional?’.
2. Pembatasan Masalah
Untuk mengkaji masalah dan memecahkan masalah secara lebih terarah, maka diidentifikasi beberapa permasalahan sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud Pembelajaran Geografi dan Kependudukan ?
2.    Bagaimana Keberadaan Nasionalisme di Indonesia?
3. Bagaimana Peran Pembelajaran Geografi dalam Memperkokoh    Kesadaran Nasional?

C.      Sistematika Penulisan
BAB I       Pendahuluan
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan dan Identifikasi Masalah
C.     Sistematika Penulisan
BAB II      Pembahasan
            A.   Geografi dan Kependudukan
            B.    Nasionalisme di Indonesia
C. Peran Pembelajaran Geografi dalam memperkokoh Kesadaran Nasional
BAB III    Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA



























BAB II
PEMBAHASAN

A.   Geografi dan Kependudukan
Seperti juga definisi tentang geografi, posisi dan peran manusia di dalam geografi sudah lama menjadi subyek perdebatan dan polemik akademik. Di antara subyek perdebatan tersebuty ang awalnya menarik perhatian banyak ahli geografiadalah tentang lingkungan alam, walaupun hal ini dianggap berarti hanya dalam kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam beberapa dekade belakangan, telahterjadi reorientasi sudut pandang yang begitu pesat (progresif) dengan penekanan lebih besar pada asumsi bahwa manusia adalah penghuni utama di bumi.Pendekatan ini terutama mendapat dukungan kuat di Perancis di mana selamaparuh pertama abad ini telah tumbuh satu aliran pemikiran geografi kemanusiaan (human geography) yang mendasarkan diri pada pencarian penjelasan tentang hubungan berganda (multiple relationship) antara manusia, aktifitasnya, dan lingkungan alamnya. Bumi dalam geografi menurut Sumaatmadja, (1988:31) tidak hanya berkenaan dengan fisik alamiah bumi saja, melainkan juga meliputi segala gejala dan prosesnya baik itu gejala dan proses alamnya maupun gejala dan proses kehidupannya. Maka dari itu  bidang kajian geografi tidak hanya mengenai fisik alamiah saja melainkan melainkan juga termasuk manusia dan lingkungannya.
Beberapa pandangan seperti dari Vidal de la Blache, Jean Brunhes, dan Maximilian Sorre berbeda-beda dalam hal penjelasan detailnya sehingga memberikan bobot yang berbeda pula dalam kajian tentang manusia. Tidak mengherankan, para ahli geografi kemanusiaan telah memberikan banyak ragam kontribusi yang bernilai pada studi/kajian tentang distribusi penduduk. Tetapi cabang ilmu geografi kemanusian sampai saat ini belum diterima secara paripurna (universal) oleh kalangan ilmuwan.
Geografi sebagai salah satu disiplin ilmu pengetahuan tidak begitu saja terpisah dengan disiplin ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, Geografi memerlukan pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk membuat deskripsi mengenai suatu wilayah, tanpa melepaskan diri dari ciri khas geografi, yaitu ilmu yang

5 Pemikiran Politik Indonesia


Herbert Feith menyatakan bahwa berawal dua sumber utama pemikiran politik di Indoensia kemudian menghasilkan lima aliran politik. Kelima aliran politik itu antara lain:
1. Komunisme yang mengambil konsep-konsep langsung maupun tidak langsung dari Barat, walaupun mereka seringkali menggunakan ideom politik dan mendapat dukungan kuat dari kalangan abangan tradisional. Komunisme mengambil bentuk utama sebagai kekuatan politik dalm Partai Komunis Indonesia.
2. Sosialisme Demokrat yang juga mengambil inspirasi dari pemikiran barat. Aliran ini muncul dalam Partai Sosialis Indonesia.
3. Islam, yang terbagi menjadi dua varian: kelompok Islam Reformis (dalam bahasa Feith)- atau Modernis dalam istilah yang digunakan secara umum- yang berpusat pada Partai Masjumi, serta kelompok Islam konservatif –atau sering disebut tradisionalis- yang berpusat pada Nadhatul Ulama.
4. Nasionalisme Radikal, aliran yang muncul sebagai respon terhadap kolonialisme dan berpusat pada Partai nasionalis Indonesia (PNI).
5. Tradisionalisme Jawa, penganut tradisi-tradisi Jawa. Pemunculan aliran ini agak kontroversial karena aliran ini tidak muncul sebagai kekuatan politik formal yang kongkret, melainkan sangat mempengaruhi cara pandang aktor-aktor politik dalam Partai Indonesia Raya (PIR), kelompok-kelompok Teosufis (kebatinan) dan sangat berpengaruh dalam birokrasi pemerintahan (pamong Praja).
Kebudayaan politik di Indonesia pada dasarnya bersumber dari tingkah laku, pola dan interaksi yang majemuk, Menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam buku ”Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965”. ada lima aliran pemikiran politik yang mewarnai perpolitikan di Indoensia, yakni: nasionalisme radikal, tradisionalisme Jawa, Islam, sosialisme demokrat, dan komunisme. Kelima aliran pemikiran inilah yang membentuk budaya politik dan sistem politik di Indonesia dari masa lampau sampai masa sekarang, dengan berbagai perubahan yang terjadi di Indonesia. Membicarakan Budaya politik di Indonesia tak lepas dari pemikiran politik yang secara historis mewarnai perpolitikan di Indonesia. Aliran politik Indonesia menurut Herbert Feith dan Lance Castles dalam buku ”Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965”. yang mewarnai perpolitikan di Indoensia, yakni:
Aliran pemikiran ini dalam pemilu 1955 direfleksikan melalui partai-partai peserta pemilu, diantaranya komunisme diwakili oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), nasionalisme radikal (PNI), Islam (Masyumi, NU), tradisionalisme Jawa (PNI, NU, PKI), dan sosialisme demokrat (PSI,Masyumi,PNI).
Aliran pemikiran tersebut pada pemilu 2004 warna ideologi kepartaian di Indonesia tinggal dua corak. Yakni, nasionalis yang direpresentasi PDI-P, Partai Golkar,dan Partai Demokrat, dan partai lain. Kedua, Islam yang diwakili PPP, PBB, PKS, dan partai lain. Yang menjadi persoalan kini ialah bagaimana dapat menjadikan individu-individu yang berada di masyarakat Indonesia untuk mempunyai ciri “dinamika dalam kestabilan” yakni menjadi manusia yang ideal yang diinginkan oleh Pancasila. Maka disini diperlukanlah suatu proses yang dinamakan sosialisasi, sosialisasi Pancasila. Sosalisasi ini jikalau berjalan progressif dan berhasil maka kita akan meimplikasikan nilai-nilai Pancasila kedalam berbagai bidang kehidupan. Dari penanaman-penanaman nilai ini akan melahirkan kebudayaan-kebudayaan yang berideologikan Pancasila. Proses kelahiran ini akan memakan waktu yang cukup lama, jadi kita tidak bisa mengharapkan hasil yang instant terjadinya pembudayaan.
Dua faktor yang memungkinkan keberhasilan proses pembudayaan nilai-nilai dalam diri seseorang yaitu sampai nilai-nilai itu berhasil tertanam di dalam dirinya dengan baik. Kedua faktoritu adalah:
1.Emosional psikologis, faktor yang berasal dari hatinya
2.Rasio,faktor yang berasal dari otaknya
Jikalau kedua faktor tersebut dalam diri seseorang kompatibel dengan nilai-nilai Pancasila maka pada saat itu terjadilah pembudayaan Pancasila itu dengan sendirinya.Tentu saja tidak hanya kedua faktor tersebut. Segi lain pula yang patut diperhaikan dalam proses pembudayaan adalah masalah waktu. Pembudayaan tidak berlangsung secara instan dalam diri seseorang namun melalui suatu proses yang tentunya membutuhkan tahapan-tahapan yang adalah pengenalan-pemahaman-penilaian-penghayatan-pengamalan. Faktor kronologis ini berlangsung berbeda untuk setiap kelompok usia.
Melepaskan kebiasaan yang telah menjadi kebudayaan yang lama merupakan suatu hal yang berat, namun hal tersebutlah yang diperlukan oleh bangsa Indonesia. Sekarang ini bangsa kita memerlukan suatu transformasi budaya sehingga membentuk budaya yang memberikan ciri Ideal kepada setiap Individu yakni berciri seperti manusia yang lebih Pancasilais. Transformasi iu memerlukan tahapan-tahapan pemahaman dan penghayatan yang mendalam yang terkandung di dalam nilai-nilai yang menuntut perubahan atau pembaharuan. Keberhasilan atau kegagalan pembudayaan dan beserta segala prosesnya akan menentukan jalannya perkembangan politik yang ditempuh oleh bangsa Indonesia di masa depan.

2. Apakah dari kelima pemikiran politik itu masih berlaku dalam masa pemikiran politik sekarang ini ?
Jawab: 
Dari kelima pemikiran politik diatas semua masih berlaku di Indonesia kecuali pemikiran politik Komunisme.

Fhilosopy of Science tumbuh dari confirmatory theories ( positivism), ke confirmatory theories da theories of explanation ( postpositivisme), dan lebih lanjut ke theories of explanation (postmodenisme).


1.         Fhilosopy of Science tumbuh dari confirmatory theories ( positivism), ke confirmatory theories da theories of explanation ( postpositivisme), dan lebih lanjut ke theories of explanation (postmodenisme).
1.1         Jelaskan Konsep filsafat ilmu dan manfaatnya bagi mahasiswa program pascasarjana filsafat ilmu tersebut diatas.

Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.
* Stephen R. Toulmin “As a discipline, the philosophy of science attempts, first, to elucidate the elements involved in the process of scientific inquiry observational procedures, patens of argument, methods of representation and calculation, metaphysical presuppositions, and so on and then to veluate the grounds of their validity from the points of view of formal logic, practical methodology and metaphysics”.
(Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbinacangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, pra-anggapan-pra-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika).
        Berdasarkan pendapat di atas kita memperoleh gambaran bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistemelogis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengakaji hakikat ilmu, seperti :
a.       Obyek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ? (Landasan ontologis)
b.      Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar mendakan pengetahuan yang benar? Apakah kriterianya? Apa yang disebut kebenaran itu? Adakah kriterianya? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? (Landasan epistemologis)
c.       Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional ? (Landasan aksiologis). (Jujun S. Suriasumantri, 1982).
Konsep dasar mengenai filsafat ilmu adalah :
1.         Empirisme; Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman inderawi.
2.   Rasionalisme; Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.
3.  Positivisme;Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.
4.    Intuisionisme. Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik.
Manfaat mempelajari filsafat ilmu, antara lain:
a.      Filsafat ilmu bermanfaat untuk menjelaskan keberadaan manusia di dalammengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan alat untuk membuat hidup menjadi lebih baik
b.  Filsafat ilmu bermanfaat untuk membangun diri kita sendiri dengan berpikir secara radikal (berpikir sampai ke akar-akarnya), kita mengalami dan menyadari keberadaan kita.
c.     Filsafat ilmu memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahannya.
d.    Filsafat ilmu memberikan pandangan yang luas, sehingga dapat membendung egoisme dan ego-sentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri).
e.     Filsafat ilmu mengajak untuk berpikir secara radikal, holistik dan sistematis,  hingga kita tidak hanya ikut-ikutan saja, mengikuti pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
f.     Filsafat ilmu memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya.
g.    Filsafat ilmu bermanfaat sebagai pembebas. Filsafat bukan hanya sekedarmendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan berbagaimitos dan mite, melainkan juga merenggut manusia keluar dari penjara itu.Filsafat ilmu membebaskan manusia dari belenggu cara berpikir yang mistis dan dogma.
h.    Filsafat ilmu membantu agar seseorang mampu membedakan persoalan yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah.
i.     Filsafat ilmu memberikan landasan historis-filosofis bagi setiap kajian disiplin ilmu yang ditekuni.
j.     Filsafat ilmu memberikan nilai dan orientasi yang jelas bagi setiap disiplin ilmu.
k.    Filsafat ilmu memberikan petunjuk dengan metode pemikiran reflektif dan penelitian penalaran supaya manusia dapat menyerasikan antara logika,  rasio,pengalaman, dan agama dalam usaha mereka dalam pemenuhan kebutuhannya

1.2.  Salah satu karakteristik berpikir filsasat adalah komprehensif jelaskan hal itu beri ilustrasi secukupnya dalam bidang keilmuan
            Filsafat senantiasa bersifat menyeluruh atau komprehensif , dalam arti tidak ada satupun yang ada diluar jangkauannya. Jika tidak demikian filsafat akan ditolak dan dikatakan berat sebelah dan  tidak memadai suatu sistem baru dikatakan memadai jika memuat penjelasan tentang semua gejala. Memang salah satu cara untuk mengecam suatu sistem filsafat ialah dengan menunjukan bahwa sistem tersebut merupakan sesuatu yang tidak memperoleh tempat didalamnya jika demikian, maka sistem tersebut perlu diperluas atau ditolak.
Contoh yang baik mengenai sistem kefilsafatan yang berusaha menjadi memadai dan menyeluruh ialah sistem yang dibuat oleh descartes, filsuf perancis pada abad xxvii, Descrates merasa jika ia dapat menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan dan kemudian dapat membuat deduksi kebenaran yang logis, maka ia dapat menerangkan dunia. Tetapi descrates sendiri menganggap perlu untuk menyakan apakah kebenaran itu ? agar dapat mengenal suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan bila ia mendapatinnya.
1.3. Apa implikasi ontology, epistemology dan aksiologi bagi magister Pendidikan IPS  
a.  Ontology
Ontology adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tata dan struktur realitas dalam arti seluas mungkin, dengan menggunakan kategori kategori seperti : ada atau menjadi, aktualitas atau potensialitas, nyata atau penampakan, esensi atau eksistensi, kesempuarnaan, ruang dan waktu, perubahan dan sebagainya. Ontology adalah bagaimana kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini ornag diharapkan pada adanya dua macam kenyataan, yaitu kenyataan yang bersifat materi/kebenaran dan kenyataan yang berupa rohani.
Ontology bagi magister pendidikan IPS, adalah bahwa ontology ini merupakan segala sesuatu yang bertalian dengan terbentuknya ilmu.secara rasional harus berdasarkan pada kaidah berpikir yang benar dalam masyarakat., bersifat universal karena memuat kebenaran sampai tingkat umum yang berlaku dimana saja.
b.        Epistemologi
Epistemology dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan.dan merupakan gabungan dua kalimat episteme,pengetahuan dan logos,theory.Epistemologis adalah cabang dari ilmu filsafat Dengan pengertian ini epistemology tentu saja menentukan karakter pengetahuan,bahkan menentukan kebenaran macam apa yang patut diterima dan yang patut ditolak Bila kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi,disusun secara sistematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemology.aspek epistemology adalh kebenaran fakta/kenyataan dari sudut pandang mengapa dan bagaimana fakta itu benar yang dapat diverivikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.
Dengan demikian definisi epistemology adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan,dasar dan pondasi,alat,tolak ukur,keabsahan,validitas dan kebenaran ilmu,makrifat,dan pengetahuan manusia. Asumsi dasar epistemologis –metodologis yaitu bahwa untuk menangkap hakikat segal a sesuatu itu jalannya(Struktur filsafat ilmu Al-Ghazali)
Epistemologi menjelaskan pertanyaan bagaimana
Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal muasal, metode-metode dan sahnya ilmu pengetahuan. Menurut Harold Titus et.l., (1984:187-188) terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang epistemologi antara lain: (1) apakah sumber pengetahuan itu? Dari manakah datangnya pengetahuan yang benar itu? Dan bagaimana cara mengetahuinya?; (2) Apakah sifat dasar pengetahuan itu? Apa ada dunia yang benar-benar di luar pikiran kita? Dan kalau ada, apakah kita bisa mengetahuinya?; (3) apakah pengetahuan itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dan yang salah?. Secara umum pertanyaan epistemologi menyangkut dua macam, yakni epistemologi kefilsafatan yang erat hubungannya dengan psikologi dan pertanyaan semantik yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut. Epistemologi meliputi tata cara dan sarana untuk mencapai pengetahuan. Perbedaan mengenai pilihan ontologik akan mengakibatkan perbedaan sarana yang akan digunakan yaitu: akal, pengalaman, budi, intuisi atau sarana yang lain. Ditunjukkan bagaimana kelebihan dan kelemahan suatu cara pendekatan dan batas validitas dari suatu yang diperoleh melalui suatu cara pendekatan ilmiah.
c.         Aksiologi
Aksios=nilai, Logi= ilmu, Aksiologi = ilmu yang mengkaji tentang nilai- nilai . Aksiologi (teori tentang nilai) sebagai filsafat yang membahas apa kegunaan ilmu pengetahuan manusia Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai yang pada umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi meliputi nilai-nilai, parameter bagi apa yang disebut sebagai kebenaran kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan fisik materil dan kawasan simbolik yang masing-masing menunjukkan aspeknya sendiri-sendiri. Lebih dari itu, aksiologi juga menunjukkan kaidah-kaidah apa yang harus kita perhatikan di dalam menerapkan ilmu di dalam menerapkan ilmu ke dalam praksis. Pertanyaan mengenai aksiologi menurut Kattsoff (1987:331) dapat dijawab melalui tiga cara. Pertama, nilai sepenuhnya berhakikat subjektif. Ditinjau dari sudut pandang ini, nilai-nilai itu merupakan reaksi-reaksi yang diberikan oleh manusia sebagai pelaku dan keberadaannya tergantung kepada pengalaman mereka. Kedua, nilai-nilai merupakan kenyataan ditinjau dari segi ontologisme namun tidak terdapat dalam ruang dan waktu. Nilai-nilai tersebut merupakan esensi logis dan diketahui melalui akal. Pendirian ini dinamakan objektivisme logis. Ketiga, nilai-nilai merupakan unsur-unsur objektif yang menyusun kenyataan, yang demikian ini disebut objektivisme metafisik.
Dalam pendekatan aksiologis ini, Jujun (1986:60) menyebutkan, bahwa pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini maka ilmu menurutnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat dan martabat manusia serta kelestarian atau keseimbangan
Aksiologi menjawab:
(1)   untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan
(2)   Bagaimana kaitan antara penggunaan tersebut dengan kaidah moral
(3)   Bagaimana penentuan object yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral
Bagaimana kaitan antara teknok procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma norma moral
                        Bagi magister Pendidikan IPS dalam menyusun Tesis harus melihat  sumber pengetahuan dan ilmu dari teori-teori yang berhubungan dengan variable yang akan diteliti, aspek kegunaan Tesis itu sendiri baik pembuat maupun bagi orang lain, sehingga pembuat Tesis itu mendapat ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat.

DAFTAR SEMUA POSTINGAN