SELAMAT DATANG DI WEBBLOG SERBA-SERBI INDONESIA TERIMAKASIH SUDAH BERKUNJUNG

Selasa, 10 Mei 2011

Epistemologi Filsapat


A.    Pengertian Epistemologi
Secara epistemologis kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme yang berarti knowledge (pengetahuan) dan logos berarti the study of atau teory of. Secara harfiah epistemologi bearti study atau teori tentang pengetahuan. Namun dalam diskursus filsafat epistemologi merupakan cabang dari filsafat yang membahas asal-usul, struktur, metode-metode dan kebenaran pengetahuan. Selain itu dapat pula dikatakan bahwa epistemologi adalah cabang dari filsafat yang secara khusus membahas tentang teori pengetahuan.
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuasaan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di alam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahan, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam. Metode ernpiris yang tela:n dibuka oleh Aristoteles mendapat sambutan yang besar pada Zaman Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon (1561-1626). Dua di antara karya-karyanya yang menonjol adalah The Advancement of Learning dan Novum Organum (organum baru).
Fisafat Bacon mempunyai peran penting dalam metode Irrduksi dan sistematis menurut dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui peyelidikan ilmiah. mam. Karena itu usaha yang ia lakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan, dan tidak akan bermakna kecuali ia mernpunyai kekuatan yang dapat membantu meraih kehidupan yang lebih baik. Sikap khas Bacon mengenai ciri dan tugas filsafat tampak paling mencolok dalam Novum Organum. Pengetahuan dan kuasa manusia satu sama lain, menurutnya alam tidak dapat dikuasai kecuali dengan jalan menaatinya, agar dapat taat pada alam. Manusia perlu mengenalnya terlebih dahuku dan untuk mengetahui alam diperlukan observasi. Pengetahuan, penjelasan. dan pembuktian. Umat manusia ingin menguasai alam tetapi menurut Bacon, keinginan itu tidak tercapai sampai pada zamannya hidup, hal ini karena ilmu-imu pengetahuan berdaya guna dalam mencapai hasilnya, sementara logika tidak dapat digunakan untuk mendirikan dan membangun ilmu pengetanuan. Bahkan, Bacon meganggap logika lebih cocok untuk melestarikan kesalahan dan kesesatan yang ada ketimbang mengejar menentukan kebenaran.
Objek telaah epistemologi adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakan dengan yang lain. Jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi ruang serta waktu tentang sesuatu hal. Landasan epistemologi adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, serta apa definisinya. Epistemologi moral menelaah evaluasi epistemik tentang keputusan moral dan teori-teori moral. Dalam epistemologi muncul beberapa aliran berpikir, yaitu:
1. Empirisme; Yang berarti pengalaman (empeiria), dimana pengetahuan manusia diperoleh daripengalaman inderawi.
2.Rasionalisme; Tanpa menolak besarnya manfaat pengalaman indera dalam kehidupan manusia, namun persepsi inderawi hanya digunakan untuk merangsang kerja akal. Jadi akal berada diatas pengalaman inderawi dan menekankan pada metode deduktif.
3. Positivisme; Merupakan sistesis dari empirisme dan rasionalisme. Dengan mengambil titik tolak dari empirisme, namun harus dipertajam dengan eksperimen, yang mampu secara objektif menentukan validitas dan reliabilitas pengetahuan.
4. Intuisionisme. Intuisi tidak sama dengan perasaan, namun merupakan hasil evolusi pemahaman yang tinggi yang hanya dimiliki manusia. Kemampuan ini yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap dan unik. Menurut Ornstein and Levine (1985: 186), epistemologi adalah bidang filsafat yang
berbicara tentang pengetahuan, dan dalam bidang pendidikan lazim dikaitkan dengan metode belajar-mengajar. Sedangkan menurut Imam Barnadib (1994:7), “cabang-cabang suatu system filsafat dapat mendasari berbagai pemikiran mengenai pendidikan.” Pada bagian lain, Barnadib mengemukakan bahwa “epistemologi diperlukan antara lain dalam hubungan dengan penyusunan kurikulum yang lazimnya diartikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan
pendidikan, dapat diumpamakan sebagai jalan raya yang perlu dilewati oleh siswa atau murid dalam usahanya untuk mengenal dan memahami pengetahuan. Agar mereka berhasil dalam mencapai tujuan ini perlu mengenal hakekat pengetahuan, sedikit demi sedikit.” (Barnadib, 1994: 21).
Bertolak dari dua sumber tersebut, maka pandangan pragmatisme Rorty tentang
epistemologi yakni yang menyangkut pengetahuan dan kebenaran akan dicari implikasinya dalam bidang pendidikan yakni dalam kaitannya dengan metode belajar-mengajar dan kurikulum atau isi pendidikan. Implikasi ini diperoleh melalui metode komparatif analaogis, yakni dengan membandingkan dengan pandangan dari filsuf atau aliran lain. Dalam buku An Introduction to the Foundations of Education, Ornstein dan Levine (1985: 196) antara lain menampilkan metode belajar-mengajar menurut formula idealisme.
Dalam pandangan ini yang disebut tindakan mengetahui adalah mengingat kembali ide-ide yang tersembunyi dalam kesadaran atau pikiran seseorang. Oleh karena itu, metode dialogis Sokrates merupakan metode yang paling cocok bagi paham ini. Dalam metode dialogis Sokrates, seorang pendidik merangsang kesadaran peserta didiknya dengan cara mengajukan pertanyaanpertanyaan
terbimbing yang mampu melahirkan atau mengeluarkan gagasan-gagasan yang tersembunyi dalam kesadaran atau pikiran peserta didik. Dalam hal kurikulum, idealisme menyusun kurikulum yang berisi mata ajaran yang lebih
umum dan memiliki kandungan isi yang sifatnya abstrak seperti nilai-nilai kebaikan dan keindahan. Secara hirarkhis kurikulum disusun dari disiplin yang paling umum seperti filsafat dan teologi. Matematika bagi mereka juga sangat bernilai, karena dapat menumbuhkan kemampuan untuk mengadakan abstraksi. Sejarah dan sastera juga memiliki level yang tinggi pula, karena merupakan sumber moral dan model budaya (Ornstein dan Levine, 1994: 190)
Epistemologi adalah bagian dari kajian filosofis yang membahas pengetahuan manusia dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Pembahasan epistemologi ini penting, dikarenakan menjadi landasan bagi pengkajian isu-isu filsafat yang mendasar dalam ontologi, karena epistemologi memberikan kekukuhan dan keutuhan metode rasional filsafat. Tanpa adanya bagunan keyakinan pada kemampuan pengetahuan manusia, maka semua pembahasan filsafat dianggap tak bermakna, seperti halnya pandangan kaum sophisme, skeptisisme, atau relativisme yang telah meracuni pemikiran manusia. Secara umum dipahami bahwa epistemologi menjadi landasan nalar filsafat, untuk memberikan keteguhan dan kekukuhannya bahwa manusia dapat memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Di bawah ini, dapat disebutkan beberapa nilai penting epistemologi, yaitu :
* Epistemologi memberikan kepercayaan bahwa manusia mampu mencapai pengetahuan. Kita ketahui bahwa pada masa Yunani Kuno, ada kelompok sophis yang menggugat kemampuan manusia untuk memperoleh pengetahuan, dan masa kini kelompok ini lebih dikenal dengan skeptisisme dan agnotisisme. Kelompok ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan, karena tidak ada fondasi yang pasti bagi pengetahuan kita. Untuk itulah, maka kajian epistemologi penting guna mengupas problematika ini sehingga kita dapat menyatakan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan dan mendapatkan kepastian.
* Epistemologi memberikan manusia keyakinan yang kuat akan pandangan dunia (world view) dan ideologi yang dianutnya. Agama berisi pandangan dunia, pandangan dunia diperoleh melalui penalaran filsafat yang basisnya epistemologi. Karena itu, jika epistemologinya kokoh, maka kajian filsafatnya juga akan kokoh sehingga pandangan dunia dan ideologi, serta agama yang dianut pun akan memiliki kekokohan dan keutuhan.
* Di dunia ini banyak aliran pemikiran yang berkembang dan terus disosialisasikan oleh para penganutnya. Karena setiap aliran pemikiran didapat dari penyimpulan pengetahuan, ini berarti pemikiran juga berurusan dengan epistemologi. Untuk itu, epistemologi akan memberikan kita kemampuan untuk memilih dan memilah pemikiran yang berkembang dan membanding-bandingkannya sehingga diketahui mana yang benar dan mana yang keliru.
* Epistemologi mengukuhkan nilai dan kemampuan akal serta kebenaran dan kesahihan metodenya dalam mendapatkan pengetahuan yang benar. Bagi kalangan empirisme, indera merupakan jalan utama memperoleh pengetahuan. Adapun akal, tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang dunia, karena—seperti dikatakan David Hume—semua yang masuk akal tentang dunia adalah bersifat induktif, dan pemikiran induktif tidak menjamin kebenaran hasilnya. Jadi epistemologi akan mengkaji leshahihan metode akal atau pun metode empiris.
* Salah satu hal yang sering kita lakukan adalah tindakan akumulatif pengetahuan. Artinya, manusia memiliki kemampuan untuk memperbanyak pengetahuan dari berbagai hal yang umumnya telah kita ketahui terlebih dahulu. Untuk itulah, epistemologi memberikan sarana bagi manusia untuk melipatgandakan pengetahuannya dari bahan-bahan dasar yang telah ada dalam mentalnya melalui teknik-teknik yang sistematis dan teratur.
Epistemologi adalah bagian dari kajian filosofis yang membahas pengetahuan manusia dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya. Pembahasan epistemologi ini penting, dikarenakan menjadi landasan bagi pengkajian isu-isu filsafat yang mendasar dalam ontologi, karena epistemologi memberikan kekukuhan dan keutuhan metode rasional filsafat. Tanpa adanya bagunan keyakinan pada kemampuan pengetahuan manusia, maka semua pembahasan filsafat dianggap tak bermakna, seperti halnya pandangan kaum sophisme, skeptisisme, atau relativisme yang telah meracuni pemikiran manusia.
Epistimologi pada intinya membicarakan tentang sumber pengetahuan dan bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Atau ada juga yang menyebutkan asal-usul, anggapan dasar, tabiat, rentang, kecermatan dll .
Ada beberapa aliran yang berbicara tentang Epistimologi, diantaranya dan yang paling populer serta mengalami perdebatan sengit terus-menerus adalah empirisme dan rasionalisme. 
Empirisme
Menurut aliran ini bahwa manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman indranya. Bapak aliran ini adalah John Lock (1632-1704) dengan teorinya "tabula rasa" yang artinya secara bahasa adalah meja lilin. Kelemahan aliran ini adalah sangat banyak :
1.               Indera terbatas ; Benda yang jauh kelihatan kecil.
2.                 Indera menipu ; Orang yang sedang sakit malaria, gula rasanya pahit apa lagi paria dah pasti pahit lah itu mah khakhakahkahkaha.
3.                Terkadang objek yang menipu, seperti ilusi dan patamorgana.
4.               Kekurangan terdapat pada indera dan objek sekaligus; indera (dalam hal ini mata) tidak bisa melihat kerbau secara keseluruhan, begitu juga kerbau tidak bisa dilihat secara keseluruhan.
5.               Rasionalisme
Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar hanya dapat diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menuruta aliran ini memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini (biasanya) orang mengatakan Rene Descartes (1596-1650), meskipun paham in ijauh sudah ada sebelumnya (Pada masa Yunani kuno). Bagi aliran ini, kekeliruan pada aliran empirisem yang disebabkan kelemahan oleh alat indera tadi, dapat dikoreksi seandainya akal digunakan. Kendati demikian aliran ini tidak mengingkari kegunaan alat indera dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indera diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan-bahan yang menyebabkan akal dapat bekerja. Laporan indera merupakan bahan yang belum jelas dan kacau. Kemudian bahan tadi dipertimbangkan oleh akal dalam pengalamannya berpikir. Selain dua aliran tadi, kemudian ada satu aliran lagi yang sama-sama populer. Ahmad Tafsir dan Endang Saefuddin Anshari menyebutnya
6.               Intuisionisme.
Aliran ini menganggap tidak hanya indera yang terbatas, akal juga terbatas. Objek yang kita tangkap itu selalu berubah-ubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya juga selalu berubah-ubah. Bapak aliran ini adalah Hanry Bergson (1859-1941). Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia yaitu intuisi. Kemampuan ini mirip dengan instinct, tetapi berbeda dalam kesadaran dan kebebasannya. Yang mirip dengan aliran ini adalah iluminasionisme. Menurut Ahmad Tafsir, paham ini dalam Islam disebut dengan teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia mempunyai kesanggupan (bagi hatinya yang bersih) untuk menerima pengetahuan yang langsung dari Tuhan. Kemampuan tersebut dapat diupayakan langsung melalui latihan, yang dalam islam disebut dengan suluk, secara lebih spesifik lagi riyadlah.
Perbedaan pokok dan dasar dari tiga teori epistimologi di atas adalah perbedaan antara teori empirisme dan teori rasionalisme. Empirisme umumnya dapat diidentikan dengan teori korespondensi dan rasionalisme dengan teori koherensi.












B.  HUBUNGAN EPISTEMOLOGI DENGAN FILSAFAT
Epistemologi memang memiliki nilai penting dalam bangunan pengetahuan manusia, namun demikian, dalam studi filsafat, epistemologi hanya menjadi landasan sekunder. Artinya, pada hakikatnya filsafat pertama hanya ‘membutuhkan’ prinsip-prinsip swabukti (self evident) yang terkandung dalam logika dan epistemologi. Karenanya, ia sebagai penggugah kesadaran pada kebenaran yang diperoleh akal tanpa pembuktian, sehingga keragu-raguan yang menyelimuti manusia menjadi sirna. Hal ini karena, penolakan terhadap argumentasi rasional atau kemampuan akal tidak lain merupakan pembuktian kemampuan argumentasi akal itu sendiri. Begitu pula, baik yang menerima maupun menolak kemampuan akal, yang sadar maupun tidak, pada dasarnya telah menggunakan prinsip-prinsip akal, logika, atau epistemologi untuk berargumentasi dan mengembangkan pengetahuannya.[2]
Seperti diuraikan sebelumnya bahwa filsafat pada dasarnya menyelidiki wujud (eksistensi). Akan tetapi, penyelidikan tersebut tidak akan bernilai sebelum kita mengukuhkan persepsi dan metode intelektual yang digunakan filsafat. Artinya sebelum kita membuktikan bahwa akal yang mejadi prosedur penelitian filsafat bernilai benar dan pasti, maka capaian-capaian filsafat tentang ontologi akan kehilangan nilainya. Dan epistemologi bertugas membuktikan kemampuan akal dan kebenaran metode rasional yang digunakan filsafat tersebut. Oleh karena itu, epistemologi dan filsafat memiliki hubungan erat yang tak terpisahkan. Karena filsafat membutuhkan prinsip-prinsip swabukti yang terkandung dalam epistemologi sebagai penggugah kesadaran dan penghapus keraguan.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan hubungan epistemologi dan filsafat dalam dua hal, sebagai berikut :
1. Premis-premis yang secara langsung dibutuhkan oleh filsafat sesungguhnya merupakan pernyataan-pernyataan yang terbukti dengan sendirinya (self efident; badihi) yang tidak memerlukan dalil baru. Semua diskusi yang dibicarakan mengenai hal ini, bukanlah sebagai pembuktian melainkan ulasan dan penjelasan saja yang menggugah perhatian kita pada kebenaran, disebabkan banyaknya kesalahpahaman yang terjadi dan keraguan yang disebarkan ditengah-tengah umat manusia.
2. Kebutuhan filsafat pada prinsip-prinsip logika dan epistemologi pada dasarnya untuk melipatgandakan pengetahuan, atau secara teknis disebut ‘penerapan pengetahuan untuk menambah pengetahuan’. Maknanya, banyak di antara manusia yang tidak menyadari penggunaan hukum-hukum logika dalam pembicaraan dan kesimpulannya sehari-hari. Karena itu, pembahasan epistemologi, lebih sebagai kebutuhan untuk melakukan rekonfirmasi atau konfirmasi (kebenaran) hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengatur di atasnya.
3. Dari kedua hubungan tersebut, terlihat bahwa epistemologi memperkuat eksistensi filsafat. Masalahnya, jika epistemologi, menjadi landasan pengetahuan manusia dan pencapaian nalar filsafat, lantas, apa pula yang mengukuhkan dan menjadi landasan epistemologi itu sendiri? Jawabnya adalah: bahwa epistemologi tidak perlu meminjam aksioma-aksioma luar untuk semua pokok bahasannya, karena semuanya dapat dijelaskan semata-mata dengan landasan-landasan dasar yang terbukti dengan sendirinya (self evident atau al-badihiyyat al-awwaliyah). Artinya, landasan epistemologi adalah epistemologi itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMAKASIH

DAFTAR SEMUA POSTINGAN